makalah tafsir tarbawi

BAB II

PEMBAHASAN

HUBUNGAN KEKERABATAN YANG BAIK

  1. Berbuat Baik Kepada Orang Tua, Kerabat, Anak Yatim, dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 36 dibawah ini :

 

(#r߉ç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.Ύô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) “É‹Î/ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur ͑$pgø:$#ur “ÏŒ 4’n1öà)ø9$# ͑$pgø:$#ur É=ãYàfø9$# É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† `tB tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC #·‘qã‚sù ÇÌÏÈ

 

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisaa’ : 36)

Ayat diatas menjelaskan kepada kita untuk beribadah kepada Allah atau tunduk kepada-Nya, baik di waktu sembinyi-sembunyi maupun terang-terangan, mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Allah melarang mempersekutukan sesuatu dengan-Nya. Dan syirik itupun terbagi kedalam beberapa macam, yaitu :

1.      Syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin Arab berupa menyembah berhala-berhala dengan menjadikan mereka sebagai para penolong dan pemberi syafa’at di sisi Allah.

2.      Syirik yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, yaitu menyembah Isa Al-Masih as.

 

Dalam ayat diatas juga diperintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada dua orang tua, dan janganlah meremehkan sedikitpun di antara tuntutan-tuntutannya, karena merupakan sebab lahir dari adanya kalian. Mereka telah memelihara kita dengan kasih sayang dan ikhlas.

Kemudian bergaullah dengan baik bersama orang-orang yang paling dekat kepada kalian, setelah kedua orang tua. Apabila telah memenuhi hak-hak kedua orang tua, maka baiklah urusan rumah tangga dan keluarga, apabila keadaan rumah tangga telah baik, maka ia menjadi suatu kekuataan yang besar dan apabila dia menolong kaum kerabatnya, maka msing-masing di antara mereka akan mempunyai kekuataan lain yang saling tolong menolong bersama keluarga ini.

Lalu kepada anak yatim, kita disuruh untuk menolong mereka, karena ia kehilangan penolongnya, yaitu bapak. Sedangkan ibu, walau bagaimana luas pengetahuannya, jarang sekali dapat mendidiknya dengan sempurna. Maka, bagi orang-orang yang mampu berkewajiban membantu pendidikannya.

Demikian pula dengan orang miskin, keadaan masyarakat tidak akan teratur, jika mereka tidak diperhatikan dan keadaan mereka tidak diperbaiki, dan akan menjadi beban masyarakat.

Tetangga adalah satu macam dari kaum kerabat, karena dekatnya tempat. Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim.

Yang dimaksud teman sejawat adalah teman dalam perjalanan dan orang asing yang mengharapkan bantuan serta pertolongan Allah. Lalu Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma’shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.

Kepada hamba-hamba kita juga disuruh untuk berbuat baik, baik laki-laki maupun wanita. Termasuk dalam perintah ini adalah memerdekakan mereka. Hal ini adalah ihsan yang paling sempurna, membantu mereka dalam menebus diri mereka dan memperlakukan mereka dengan baik.

 

  1. Berkenaan Dengan Sumpah

 

Ÿwur È@s?ù’tƒ (#qä9’ré& È@ôÒxÿø9$# óOä3ZÏB Ïpyè¡¡9$#ur br& (#þqè?÷sム’Í<‘ré& 4’n1öà)ø9$# tûüÅ3»|¡yJø9$#ur šúï̍Éf»ygßJø9$#ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# ( (#qàÿ÷èu‹ø9ur (#þqßsxÿóÁu‹ø9ur 3 Ÿwr& tbq™7ÏtéB br& tÏÿøótƒ ª!$# óOä3s9 3 ª!$#ur ֑qàÿxî îLìÏm§‘ ÇËËÈ

 

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,(QS. An-Nur : 22)

 

Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa Dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri ‘Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema’afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

 

 

 

 

 

 

  1. Kesaksian

* $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà­ ¬! öqs9ur #’n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& Èûøïy‰Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ $†‹ÏYxî ÷rr& #ZŽÉ)sù ª!$$sù 4’n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Ÿxsù (#qãèÎ7­Fs? #“uqolù;$# br& (#qä9ω÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZŽÎ6yz ÇÊÌÎÈ

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisaa’ : 135)

Jadikanlah kalian orang-orang yang memberikan kesaksian karena Allah Ta’ala, seperti dengan jalan memeriksa kebenaran yang diridhai oleh Allah dan memerintahkannya tanpa pilih kasih terhadap  seseorang, meski kesaksian itu merugikan kalian sendiri.

Apabila pihak yang diberi kesaksian yang merugikan dirinya dari kaum kerabat dan lain-lain itu kaya atau msikin, maka sesungguhnya Allah lebih mengetahui kemaslahatannya, dan syari’at-Nya lebih berhak untuk diikuti. Oleh karena itu, berhati-hatilah agar jangan sampai kalian pilih kasih terhadap orang kayak arena tamak kepada kebaikannya dan takut kepada kejahatannya, jangan pula terhadap orang miskin Karena kasihan kepadanya.

Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, agar kalian tidak menyimpang dari yang haq kepada yang batil.

Janganlah kalian memutar-balikkan kata-kata  dan menyimpangkan kesaksian, atau jangan pula kalian enggan memberikan kesaksian, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang segala perbuatan kalian.

 

  1. Memberikan hak kerabat

ÏN$t«sù #sŒ 4’n1öà)ø9$# ¼çm¤)ym tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur tûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz šúïÏ%©#Ïj9 tbr߉ƒÌãƒ tmô_ur «!$# ( y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd tbqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÌÑÈ

Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung.(QS Ar-Rum : 38)

 

Ayat ini menjelaskan dan memerintahkan kepada manusia supaya memberi hak kerabat terdekat. Dalam hal ini ada hubungannya dengan orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu :

1. Orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan.

3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.

4.  Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5.  Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6.  Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7. Sabilillah: Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

8.  Ibnu Sabil :Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

 

Sebagaimana juga dalam firman Allah Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 177.

* }§øŠ©9 §ŽÉ9ø9$# br& (#q—9uqè? öNä3ydqã_ãr Ÿ@t6Ï% É-Ύô³yJø9$# É>̍øóyJø9$#ur £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# Ïpx6Í´¯»n=yJø9$#ur É=»tGÅ3ø9$#ur z`¿Íh‹Î;¨Z9$#ur ’tA#uäur tA$yJø9$# 4’n?tã ¾ÏmÎm6ãm “ÍrsŒ 4†n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur tûüÅ3»|¡yJø9$#ur tûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# tû,Î#ͬ!$¡¡9$#ur ’Îûur ÅU$s%Ìh9$# uQ$s%r&ur no4qn=¢Á9$# ’tA#uäur no4qŸ2¨“9$# šcqèùqßJø9$#ur öNÏdωôgyèÎ/ #sŒÎ) (#r߉yg»tã ( tûïΎÉ9»¢Á9$#ur ’Îû Ïä!$y™ù’t7ø9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏnur Ĩù’t7ø9$# 3 y7Í´¯»s9’ré& tûïÏ%©!$# (#qè%y‰|¹ ( y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd tbqà)­GßJø9$# ÇÊÐÐÈ

 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya);dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Baqarah:177)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Ø  Kesimpulan

Syirik terbagi kedalam beberapa macam, yaitu :

1.      Syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin Arab berupa menyembah berhala-berhala dengan menjadikan mereka sebagai para penolong dan pemberi syafa’at di sisi Allah.

2.      Syirik yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, yaitu menyembah Isa Al-Masih as.

 

Orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu : Orang fakir, Orang miskin, Pengurus zakat, Muallaf, Memerdekakan budak,Orang berhutang, Sabilillah, dan Ibnu Sabil.

Ø  Saran

Penulis menyadari sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan yang membawa ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat kostruktif demi kesempurnaannya dimasa mendatang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahmad Mushthafa Al-Maragi. 1989. Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Semarang : CV Toha Putra.
  2. Prof. Dr. Hamka. 1986. Tafsir Al-Azhar. Jakarta : PT Pustaka Panjimas.

 

Pos ini dipublikasikan di makalah, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar atau Jempol Manisnya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s