Sang Putri

sang putri menarik tirainya

alinya muram dan berkerut

air matanya jatuh satu persatu

tiada yang tahu berapa besar kesedihannya

jemarinya yang lembut

menyeka iar mukanya

kutatap wajah lesunya, dalam…

ia penuh beban

perlahan, bibir lembutnya terbuka

merangkai kata

“aku atau mereka yang kalah?

aku tidak hadir karena kebencian yang kupendam

tidak pula karena warisan yang diperebutkan

aku hadir karena jiwaku bertitah

 dari mataku, kulihat mereka

sudah kalah kemarin, dan hari ini

kilihat m,ereka berdiri

menatap foto mereka sendiri

yang sudah lama mati

sedang tubuh mereka

ditunggangi nafsu dan keangkuhan

Duhai malang…

cinta tidak ditentukan dari paras maupun derajat

hanya nafsu dan keangkuhanlah

yang berfikiran seperti itu.

Aku atau mereka yang kalah?”

ku tatap wajah lesunya, lembut…

tiada yang tahu betapa tegar jiwanya

bola matanya melukiskan kesedihannya

sang putripun menutup tirainya

Pos ini dipublikasikan di puisi, sastra dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar atau Jempol Manisnya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s