MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN “BAKAT DAN MINAT” By.Husdiana

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Psikologi Pendidikan adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan terhadap anan didik dalan situasi pendidikan. Psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Mempelajari psikologi pendidikan sangat penting apalagi bagi seorang pendidik, guna supaya terciptanya suatu kondisi belajar yang efektif.

Berbicara mengenai psikologi pendidikan sangat luas pembicaraannya. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibatasi pada persoalan-persoalan bakat dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Mengingat hal tersebut sangat berhubungan erat dalam pembentukan pribadi seseorang.

  • Rumusan Masalah

Apa itu bakat dan apa saja dimensi pokoknya serta bagaimana cara untuk mengenali bakat seseorang ?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

PERBEDAAN-PERBEDAAN DALAM BAKAT

  1. Pengertian Bakat

Menurut M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan disebutkan bahwa kata bakat lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan pembawaan, yaitu yang mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu.[1]

William B. Michael memberi definisi mengenai bakat sebagai berikut :

An aptitude may be defined as a person’s capacity, or hypothetical potential, for acquisition of a certain more or less weeldefined pattern of behavior involved in the performance of a task respect to which the individual has had little or no previous training (Michael, 1960: 59).

Jadi Michael meninjau bakat itu terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut.

Woodworth dan Marquis memberikan definisi demikian: “aptitude is predictable achievement and can be measured by specially devised test” (Woodworth dan Marquis, 1957: 58). Bakat (aptitude), oleh Woodworth dan Marquis dimasukkan dalam kemampuan (ability). Menurutnya ability mempunyai tiga arti, yaitu :

  1. Achievement yang merupakan actual ability, yang dapat diukur langsung dengan alat atau tes tertentu.
  2. Capacity yang merupakan potential ability, yang dapat diukur secara tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, di mana kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan training yang intensif dan pengalaman.
  3. Aptitude, yaitu kualitas yang hanya dapat diungkap/diukur dengan tes khusus yang sengaja dibuat untuk itu.[2]

Menurut Guilford bakat itu mencakup tiga dimensi pokok, yaitu :

  1. Dimensi Perseptual

Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan persepsi, dan ini meliputi faktor-faktor antara lain :

  1. Kepekaan indera
  2. Perhatian
  3. Orientasi waktu
  4. Luasnya daerah persepsi
  5. Kecepatan persepsi, dan sebagainya.
  1. Dimensi Psiko-motor

Dimensi psiko-motor ini mencakup enam faktor, yaitu :

  1. Faktor kekuatan
  2. Faktor impuls
  3. Faktor kecepatan gerak
  4. Faktor ketelitian/ketepatan, yang terdiri atas dua macam, yaitu :

1)      Faktor kecepatan statis, yang menitikberatkan pada posisi.

2)      Faktor ketepatan dinamis, yang menitikberatkan pada gerakan.

  1. Faktor koordinasi
  2. Faktor keluwesan (flexibility).
  1. Dimensi Intelektual

Dimensi inilah yang umumnya mendapat penyorotan secara luas, karena memang dimensi inilah yang mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima faktor, yaitu:

  1. Faktor ingatan, yang mencakup:

1)      Faktor ingatan mengenai substansi

2)      Faktor ingatan mengenai relasi

3)      Faktor ingatan mengenai system

  1. Faktor pengenalan, yang mencakup:

1)      Pengenalan terhadap keseluruhan informasi

2)      Pengenalan terhadap golongan (kelas)

3)      Pengenalan terhadap hubungan-hubungan

4)      Pengenalan terhadap bentuk dan struktur

5)      Pengenalan terhadap kesimpulan.

  1. Faktor evaluatif, yang meliputi:

1)      Evaluasi mengenai identitas

2)      Evaluasi mengenai relasi-relasi

3)      Evaluasi terhadap system

4)      Evaluasi terhadap penting tidaknya problrm (kepekaan terhadap problem yang dihadapi).

  1. Faktor berpikir konvergen, yang meliputi:

1)      Faktor untuk menghasilkan nama-nama

2)      Faktor untuk menghasilkan hubungan-hubungan

3)      Faktor untuk menghasilkan system-sistem

4)      Faktor untuk menghasilkan transformasi

5)      Faktor untuk menghasilkan implikasi-implikasi yang unik.

  1. Faktor berpikir divergen, yang meliputi:
    1. Faktor untuk menghasilkan unit-unit
    2. Faktor untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan
    3. Faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan.
    4. Faktor untuk menghasilkan system
    5. Faktor untuk transfomasi divergen
    6. Faktot untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka. [3]

Dengan sengaja pendapat Guilford ini dikemukakan dengan agak lengkap, tidak karena pendapat tersebut dianggap sebagai satu-satunya pendapat yang benar, akan tetapi berlebih-lebih sebagai ilustrasi untuk menunjukkan betapa rumitnya kualitas manusia yang kita sebut itu.

  1. Mengenali Bakat Seseorang

Menurut sejarahnya usaha pengenalan bakat itu mula-mula terjadi pada bidang kerja (atau jabatan), tetapi kemudian juga dalam bidang pendidikan. Bahwa dewasa ini dalam bidang pendidikanlah usaha yang paling banyak dilakukan. Dalam praktiknya hampir semua ahli yang menyusun tes untuk mengungkap bakat bertolak dari dasar pikiran analisis faktor.

Pemberian nama terhadap jenis-jenis bakat biasanya dilakukan berdasar atas dalam lapangan apa bakat tersebut berfungsi, seperti bakat matematika, bakat bahasa, bakat olah raga, dan sebagainya. Dengan demikian, maka macamnya bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan di mana seseorang individu hidup. Mungkin penamaan itu bersangkutan dengan bidang studi, mungkin pula dalam bidang kerja.

Sebenarnya setiap bidang studi atau bidang kerja dibutuhkan lebih dari satu faktor bakat saja. Bermacam-macam fakor mungkin diperlukan berfungsinya untuk suatu lapangan studi atau lapangan kerja tertentu. Suatu contoh misalnya bakat untuk belajar di Fakultas Teknik akan memerlukan berfungsinya faktor-faktor mengenali bilangan, ruang, berpikir abstrak, bahasa, mekanik, dan mungkin masih banyak lagi. Karena tiu ada kecenderungan di antara para ahli sekarang untuk mendasarkan pengukuran bakat itu pada pendapat, bahwa ada setiap individu sebenarnya terdapat semua faktor-faktor yang diperlukan untuk berbagai macam lapangan, hanya dengan kombonasi, konstelasi, dan intensitas yang berbeda-beda. Karena itu biasanya yang dilakukan dalam diagnosis tentang bakat adalah membuat urutan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu.

Prosedur yang biasanya ditempuh adalah :

  1. melaksanakan analisis jabatan atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil dalam lapangan tersebut.
  2. Dari hasil analisis itu dibuat pencandraan jabatan atau pencandraan lapangan studi.
  3. Dari Pencandraan jabatan atau pencandraan lapangan studi itu diketahui persyaratan apa yang harus dipenuhi supaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu.
  4. Dari persyaratan itu sebagai landasan disusun alat pengungkapan (alat pengungkap bakat), yang biasanya berwujud tes.[4]

Dengan jalan pikiran seperti yang digmbarkan di atas itulah pada umumnya tes bakat itu disusun. Sampai sekarang boleh dikata belum ada tes bakat yang cukup luas daerah pemakainya (seperti misalnya tes inteligensi), berbagai tes bakat yang telah ada seperti misalnya FACT (Flanagan Aptitude Clasification Test) yang disusun oleh Flanagan, DAT dan lain sebagainya.

BAB III

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Kata bakat lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan pembawaan, yaitu yang mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu.

Menurut Guilford bakat itu mencakup tiga dimensi pokok, yaitu : Dimensi Perseptual, psiko-motor dan intelektual,

Usaha pengenalan bakat mula-mula terjadi pada bidang kerja (atau jabatan), tetapi kemudian juga dalam bidang pendidikan. Bahwa dewasa ini dalam bidang pendidikanlah usaha yang paling banyak dilakukan. Dalam praktiknya hampir semua ahli yang menyusun tes untuk mengungkap bakat bertolak dari dasar pikiran analisis faktor.

  • Saran

Penulis menyadari sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan yang membawa ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat kostruktif demi kesempurnaannya dimasa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

 Anastasi, A. Differential Psychology, New York: MacMillan, 1958

Bingham, W Van D. Aptitude and Aptitude Testing, New York: Harper, 1937

Ferguson, G.A. On learning and human ability, Canadian Journal of Psychology, 1954,8, 95-112.

Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2004.


[1] Drs. M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007. hal. 25

[2] Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D., Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2004. hal. 161

[3] Ibid, hal. 163-165

[4] Ibid, hal.167

Sampingan | Pos ini dipublikasikan di makalah dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN “BAKAT DAN MINAT” By.Husdiana

  1. Banyak sekali definisi mengenai emosi yang dikemukakan oleh para ahli, karena memang istilah emosi ini menurut Daniel Goleman (1995) yang merupakan pakar “kecerdasan emosional” makna yang tepat masih sangat membingungkan, baik di kalangan para ahli psikologi maupun ahli filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Karena sedemikian membingungkannya makna emosi itu, maka Daniel Goleman mendifinisikan emosi dengan merujuk kepada makna secara harfiah, yang diambil dari “Oxford English Dictionary” yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan dan nafsu; setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa emosi itu merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

    Menurut Chaplin (1989) dalam “Dictionary of Psychology” mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin membedakan antara emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feeling) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar atau Jempol Manisnya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s