bacaan basmallah

Basmalah sunnah dibaca secara sirr ketika membaca al-Fatihah dalam shalat. Pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri ini mengajukan beberapa dalil dari as-Sunnah seperti :

Hadis Pertama :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } )صحيح البخاري – (3 / 186)

“ Dari Anas bin Malik, “ Bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar, Umar radhiyallahu ‘anhuma mereka semua membuka (bacaan) shalat dengan alhamdulillahirabbil’alamin”. ( Sahih al-Bukhari : 3/186)

Hadis Kedua :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَت كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الْقِرَاءَةَ بِ{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } سنن ابن ماجه – (3 / 40)

“ Dari Aisyah ia berkata, “ Bahwasanya Rasulullah SAW membuka bacaan shalat dengan alhamdulillahirabbil ‘alamin. ( Sunan Ibnu Majah : 3/40 )

Hadis ini disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Wa Dha’if Sunan Ibnu Majah : 2/384.

Hadis ketiga :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) صحيح مسلم – (2 / 361)

Dari Anas ia berkata: “Saya shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Usman, dan saya tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca Bismillahir-rahmanir-rahim”. ( Sahih Muslim : 2/361)

Sebuah atsar dari sahabat Ibnu Mas’ud :

لِقَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَرْبَعٌ يُخْفِيهِنَّ الْإِمَامُ ، وَذَكَرَ مِنْهَا التَّعَوُّذَ وَالتَّسْمِيَةَ وَآمِينَ

“ Perkataan Ibnu Mas’ud yang menyatakan : ada empat perkara yang dibaca pelan oleh imam yakni : disebutkan di antaranya bacaan ta’awudz, tasmiyah dan amin”.

Hadis-hadis di atas secara sharih menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memulai bacaan dengan al-hamdulillahi rabbil ‘alamin, basmalahnya dibaca secara sirr. Kesahihan riwayat di atas tidak perlu diragukan lagi, karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Yang menyatakan basmalah wajib dibaca beserta al-Fatihah secara keras (jahr) dalam shalat jahriyyah dan secara sirr dalam shalat sirriyyah. Imam asy-Syafi’i dan pengikutnya mengajukan sejumlah dalil dari as-Sunnah seperti:

Hadis Pertama :

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَال :صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) سنن النسائي – (ج 3 / ص 459) ,سنن الدارقطني – (ج 3 / ص 291)

“ Dari Nu’aim al-Mujmir ia berkata, “Aku shalat di belakang Abu Hurairah kemudian ia membaca Bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) sampai beliau membaca : “Waladh dhaallin”, beliau berkata : “Aamiin”. Maka manusia berkata (juga) : “Aamiin”. Dan beliau berucap setiap kali sujud : “Allahu Akbar”, dan ketika bangkit dari duduk raka’at kedua beliau berkata : “Allahu Akbar”. Dan apabila beliau salam maka beliau berkata : “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya akulah di antara kalian yang paling serupa shalatnya dengan Rasulullah SAW” (Sunan an-Nasa`i : 3/459, Sunan ad-Daruquthni : 3/291)

Hadis ini menurut penuturan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari adalah hadis terkuat tentang bacaan basmalah dalam shalat.

Dalam Hasyiah as-Sindi terdapat penjelasan sebagai berikut :

قَوْله ( صَلَّيْت وَرَاء أَبِي هُرَيْرَة فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم ) يَدُلّ عَلَى أَنَّ الْبَسْمَلَة تُقْرَأ فِي أَوَّل الْفَاتِحَة وَلَا يَدُلّ عَلَى الْجَهْر بِهَا وَآخِر الْحَدِيث يَدُلّ عَلَى رَفْع هَذَا الْعَمَل إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَم . )شرح سنن النسائي – (2 / 152)

“ Perkataan ‘ Aku shalat di belakang Abu Hurairah kemudian ia membaca bismillahirrahmanirrahim’ menunjukkan basmalah itu dibaca di awal al-Fatihah, namun tidak menunjukkan basmalah itu dibaca dengan keras. Akhir hadis tersebut menunjukkan bahwa perbuatan ini disandarkan pada Nabi SAW. Wallahu Ta’ala A’lam. ( Syarh Sunan an-Nasa`i : 2/152)

Hadis Kedua :

ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) سنن الترمذي – (1 / 414)

“ Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW membuka (bacaan) shalat dengan bismillahirrahmanirrahim.” ( Sunan at-Tirmidzi : 1/414).

Hadis ini dihukumi dha’if sanadnya oleh al-Albani dalam Sahih wa Dha’if sunan at-Tirmidzi 1/245. Al-Albani menghukumi hadis tersebut dengan ungkapan :

تحقيق الألباني : ضعيف الإسناد

Abu Dawud juga berkata, “ Hadis ini hadis dha’if.”

Hadis Ketiga :

وقد أخرجه الحاكم في المستدرك عن ابن عباس بلفظ : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجهر ب { بسم الله الرحمن الرحيم } ، ثم قال : صحيح . )المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 2 / ص 256)

Al-Hakim mengeluarkan dalam mustadraknya dari Ibnu Abbas dengan lafadz, “Adalah Rasulullah SAW mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim”, lantas al-Hakim berkata, Sahih. ( al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim 2/256)

Pensahihan al-Hakim yang dikenal suka tasahul ( bermudah-mudah) dalam mensahihkan hadis dikoreksi oleh Ibnu Rajab dalam Fath al-Bari. Menurut Ibnu Rajab hadis ini adalah dha’if.

Hadis Keempat :

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم ، قالت : « كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقطع قراءته ( بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، الرحمن الرحيم ، مالك يوم الدين )المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 7 / ص 36) شعب الإيمان للبيهقي – (ج 5 / ص 333)

“ Dari Ummi Salamah bahwasanya ia berkata, “ Adalah Rasulullah SAW memutus bacaannya bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ar-Rahmanirrahim, Malikiyaumiddin) ( al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain : 7/36, Syu’ab al-Iman li al-Baihaqi : 5/333).

Komentar ulama ahli hadis terhadap hadis tersebut. Menurut ad-Daruquthni isnadnya sahih, perawinya semuanya tsiqat.
Al-Hakim berkata: Sahih menurut syarat dua imam (Bukhari-Muslim), pendapat ini disetujui adz-Dzahabi. Ibnu Khuzaimah dan an-Nawawi juga mensahihkan hadis tersebut.

Hadis ini hanya menceritakan bahwa Nabi SAW ada membaca basmalah, namun tidak ada indikasi atau keterangan bahwa beliau membacanya dengan keras.
Hadis Kelima :

عن أبي هريرة : «أنه صلى فجهر في قراءته بالبسملة ، وقال بعد أن فرغ : إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم » ، أخرج النسائي في سننه ، وابن خزيمة ، وابن حبان في صحيحيهما ، والحاكم في المستدرك, وصححه الدارقطني ، والخطيب ، والبيهقي ، وغيرهم

“ Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia melakukan shalat maka ia mengeraskan bacaan basmalahnya, lantas ia berkata setelah selesai shalat, “ Sungguh shalatku ini amat mirip dengan shalat yang dikerjakan Rasulullah SAW”. ( Dikeluarkan oleh Nasa`i dalam sunannya, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam sahihnya, al-Hakim dalam al- Mustadrak. Disahihkan oleh Daruquthni, al-Khatib, al-Baihaqi dan lain-lain.

Dalam penilaian Ibnu Taimiyyah, hadis-hadis yang menyatakan Nabi SAW ada mengeraskan basmalah derajatnya tidak meyakinkan. Hadis-hadis yang menyebutkan secara tegas bahwa Nabi ada mengeraskan bacaan basmalah semuanya dha’if bahkan ada yang maudhu’. Lebih lanjut ia mengutip pernyataan Imam ad-Daruquthni ketika ia telah selesai menghimpun hadis-hadis yang mengeraskan bacaan basmalah, ia ditanya, “ Adakah hadis sahih yang engkau temukan dalam hal ini?”. Ia menjawab, “ Adapun riwayat dari Nabi tak ada yang sahih, sedang riwayat dari sahabat ada sebagian yang sahih ada yang tidak.”

Dalam tafsir Fath al-Qadir karya Imam asy-Syaukani disebutkan pada Juz 2/61:

قال ابن تيمية : وروينا عن الدارقطني أنه قال : لم يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في الجهر حديث

“ Berkata Ibnu Taimiyah : Kami meriwayatkan dari ad-Daruquthni bahwasanya ia berkata : “ Tak ada satupun hadis sahih dari Nabi SAW yang menerangkan bacaan basmalah dibaca keras”.

وقال الحازمي : أحاديث الجهر وإن كانت مأثورة عن نفر من الصحابة غير أن أكثرها لم يسلم من شوائب .

“ Berkata al-Hazimi : Hadis-hadis yang menerangkan basmalah dibaca jahr meskipun berasal dari sekelompok sahabat Nabi SAW, namun mayoritas tidak lepas dari cacat”.

Pos ini dipublikasikan di fiqh, makalah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar atau Jempol Manisnya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s