contoh puisi

Pasca Kematian Tuhan

Kayu yang basah
karena hujan semalaman
kini masih terbujur kaku
di halaman depan rumah tak bertuan.
Pipit yang bernyanyi riang
karena kuningnya padi
kini harus mengalah pada musim
karena semua keindahan
sudah direnggut nyawanya.
Malam yang sunyi dari bait-bait suci
terus meronta dalam
kejamnya rotasi tangan
para pembunuh Tuhan.

Rona pesta kematian Tuhan
terus mempesona
di setiap gemerlapnya kota dan desa.
Meja-meja santapan benak Tuhan
masih tersusun rapi
dalam setiap senandung para pembunuh Tuhan.
Isak tangis para penziarah
terus menggema hingga
memecahkan gendang telinga.

Rumah tak bertuan
Saksi bisu kematian Tuhan.

Malam menyimpan bintang
Siang menyembunyikan mentari.

Taburan bunga di pusaran Tuhan
bukti Tuhan benar-benar sudah mati.

Pos ini dipublikasikan di puisi, sastra, seni/sastra, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar atau Jempol Manisnya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s