Tarjih dan Tajdid

  1. A.     PENDAHULUAN

Diakui atau tidak realitas keagamaan telah mengalami kemunduran yang sangat tragis. Di bidang ilmu hukum misalnya, kebekuan hukum islam nampak jelas terjadi di tengah-tengah kerumunan umat islam yang “notabene” sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Sebagai contoh adalah begitu banyak umat islam yang memahami sumber ajaran islam (alquran dan assunnah) secara tekstual. Hal ini berakibat timbulnya gerakan-gerakan keagamaan yang beku dan “monoton”. Dan yang lebih ironis adalah dengan tanpa melakukan pengkajian mendalam terhadap sumber-sumber ajaran agama islam khususnya berkaitan dengan sunnah nabawiyah, begitu mudahnya mereka menetapkan hukum-hukum agama islam sehingga timbullah bid’ah-bid’ah dalam hukum islam.

Di bidang pemikiran pun terjadi kebuntuan, sehingga sikap fanatisme golongan merebak di mana-mana. Hal ini merupakan perwujudan dari pemahaman tertutupnya pintu ijtihad. Akhir dari semua ini adalah saling menyalahkan dan pengkultusan terhadap tokoh tertentu yang dianggap berpengaruh dalam kelompoknya.

Lain lagi halnya dengan masyarakat awam yang memiliki akar budaya agama dan kepercayaan nenek moyang yang sangat kental. Mereka dengan tanpa ilmu pengetahuan dan pengkajian yang mendalam telah melahirkan peradaban baru dalam agama islam ini dengan cara mencampur adukkan antara kebiasaan ritual agama dan atau kepercayaan nenek moyang mereka ke dalam islam. Sehingga timbul masyarakat yang mempercayai tahayyul dan khurafat.

Permasalahan di atas merupakan penyakit masyarakat yang sudah mewabah, baik di Indonesia bahkan di dunia sekali pun. Sehingga penyakit ini pula yang melatar belakangi munculnya gerakan tajdid (pembaharuan) pola pikir dengan menggunakan berbagai metode pendekatan.

Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang bergerak di bidang sosio cultural dalam perkembangannya selalu akan berusaha merespon berbagai perkembangan dengan tetap merujuk kepada sumber hukum islam (arruj’u ilal qur-an wa assunnah almaqbulah). Diakui atau tidak, di satu sisi sejarah selalu melahirkan persoalan dan di sisi lain islam menawarkan referensi normatif atas persoalan tersebut. Dan Muhammadiyah berusaha menyelesaikan persoalan tersebut dengan membawanya ke ranah ke-Ilahian. Orientasi ke-Ilahian inilah yang menjadi pembeda antara Muhammadiyah dengan organisasi sosio lainnya. Baik dalam hal merumuskan masalah, menjelaskan, maupun dalam menyusun kerangka penyelesaiannya.

Pemikiran keislaman itu meliputi semua bidang kehidupan agama secara praktis, dan wacana moralitas publik dalam merespon keberlansungan kehidupan masyarakat. Setiap detik dan menit selalu ada masalah hangat yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemikir-pemikir keislaman. Muhammadiyah sebagai organisasi yang berbasis agama merasa berkewajiban untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, baik secara hermeuneutik (kritis-konstruktif) antara normativitas addin sebagai agama yang memiliki aturan jelas dan permanen, historis penafsiran kata din itu sendiri, realitas mutakhir serta masa depan agama dan penganutnya.

Untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang pelik ini, perlu adanya perhatian serius. Sehingga diharapkan arruhul ijtihad wa tajdid dapat terus tumbuh dan berkembang di tengah-tengah gagap gempita globalisasi.

Pemahaman sumber ajaran islam yang berupa  Alquran dan assunnah almaqbulah harus dilakukan secara komprehensif integralistik melalui pendekatan bayani (semantik atau kebahasaan), burhani (rasionalistik atau penalaran), dan irfani (filosofis atau kemaslahatan).

  1. MANHAJ TARJIH

Tarjih berasal dari kata rajjaha-yurajjihu-tarjiihan, yang mengandung makna mengambil sesautu yang lebih kuat. Menurut istilah ahli ushul fiqh adalah usaha yang dilakukan oleh mujtahid untuk mengemukakan satu antara dua jalan (dalil) saling bertentangan, karena memiliki kelebihan yang lebih kuat dari yang lainnya.

Sebagai mana yang tertulis dalam matan keyakinan dan cita-cita hidup muhammadiyah kata tarjih dalam istilah persyerikatan Muhammadiyah bermakna, membanding-bandingkan pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana yang lebih kuat.

Pada tahap awal berdirinya, manhaj tarjih hanya berfungsi untuk membanding-bandingkan dalil dari beberapa hukum. Akan tetapi berkembang sesuai dengan perkembangan masalah yang kekinian, kemudian menjadi usaha-usaha mencari ketentuan hukum bagi masalah yang baru yang mana tidak atau belum ada dibicarakan oleh para ulama dan pemikir islam.

Dalam berijtihad majlis tarjih menggunakan tiga macam bentuk pendekatan:

  1. Ijtihad bayani; menjelaskan teks alquran dan hadits yang masih mujmal (umum), atau memiliki makna ganda, atau kelihatan bertentangan, atau sejenisnya yang kemudian dilakukan jalan tarjih.
  2. Ijtihad Qiyasi; penggunakan metode qiyas untuk menetapkan ketentuan hukum yang tidak atau belum ditentukan oleh alquran atau pun hadits.
  3. Ijtihad isthilahi; menetapkan hukum yang tidak ada nash-nya secara khusus berdasarkan illat, dengan tujuan kemaslahatan umat.

Dalam manhaj tarjih, untuk menentukan suatu hukum harus dilakukan ijtihad jama’i. Dengan demikian pendapat perorangan anggota majlis tidak dipandang kuat. Kemudian manhaj ini juga tidak mengikat diri dalam satu atau lebih pandangan mazhab. Majlis ini juga bersikap toleran, sehingga pengkultusan terhadap putusan majlis tarjih dianggap salah.

Dalam perkara aqidah hanya haits-hadits mutawatir saja yang diambil. Namun demikian dalam majlis tarjih ijma’ pendapat sahabat sama sekali tidak ditolak. Dalam pengambilan hukum terhadap hal yang mubah namun memiliki pertimbangan kekhawatiran maka majlis ini menggunakan kaidah saddu dzara’i. Dan yang lebih penting adalah majlis ini melakukan penentuan suatu hukum dengan cara pengkajian nash secara komprehensif dan tidak terputus, serta dalam pengamalan agama lebih cenderung menggunakan kaidah taisir (memudahkan).

  1. C.    MANHAJ IJTIHAD
    1. Pengertian istilah

Ijtihad: mencurahkan segenap kemampuan berfikir dalam menggali dan merumuskan ajara islam baik di bidang aqidah, hukum, tasawuf, filsafat, maupun disiplin ilmu lainnya yang berlandaskan alquran dan assunnah almaqbulah.

Ittiba’: mengikuti pemikiran ulama dengan mengetahui dalil dan argumentasinya.

Taqlid: mengikuti pemikiran ulama tanpa mengetahui dalil dan ergumentasinya.

Talfiq: menggabungkan beberapa pendapat syar’i. Talfiq terjadi dalam konteks ittiba’ dan taqlid.

Tarjih: proses dalam menetapkan suatu hukum dalam suatu permasalahan dengan mengambil dan menetapkan dalil yang lebih kuat (rajih).

Tajdid: pembaharuan yang memiliki dua makna, pertama pemurnian (tajdidu salafy), kedua pengembangan (tajdidu tathwiri).

Assunnah almaqbulah: perkataan, perbuatan, dan ketetapan nabi saw yang menurut analisis memenuhi kriteria shahih dan hasan.

  1. Sumber hukum dan kedudukan ijtihad
    1. Dasar mutlak dalam penetapan hukum Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadits as-syarif.
    2. Bilamana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan dihajatkan untuk  diamalkannya,  mengenai hal-hal yang tak berhubungan dengan ibadah maghdah padahal untuk alasannya tidak terdapat dalam al-quran dan assunnah ashshihah, maka jalan untuk mengetahui hukumnya adalah dengan jalan ijtihad dan istinbath dari nash-nash yang ada berdasarkanpersamaan illat sebagaimana yang telah dilakukan oleh ulama salaf dan khalaf.
  1. Pengertian, posisi, dan ruang lingkup ijtihad

Ijtihad hukum adalah mencurahkan segenap kemampuan berfikir dalam menggali dan merumuskan hukum syar’i yang bersifat zhanni dengan menggunakan metode tertentu yang dilakukan oleh orang yang berkompenten baik secara metodis maupun permasalahan. (manhaj tarjih: 7)

Posisi ijtihad bukan merupakan sebagai hukum melainkan sebagai metode penetapan hukum, sedangkan fungsi ijtihad adalah sebagai metode untuk merumuskan ketetapan hukum yang belum terumuskan oleh alquran dan assunnah.

Ruang lingkup ijtihad meliputi:

  1. Masalah-masalah yang terdapat dalam dalil-dalil zhanni
  2. Masalah-masalah yang secara eksplisit tidak terdapat di dalam alquran dan assunnah.
  1. D.    MANHAJ TAJDID
    1. Pemikiran Islam

Membedakan pemikiran islam dengan islam sangatlah penting. Islam merupakan suatu ranah wahyu yang berperan sebagai petunjuk bagi umat manusia secara universal. Sedangkan pemikiran islam bukanlah wilayah yang bebas dari intervensi historisitas (kepentingan) kemanusiaan. Pemikiran islam tidak bercita-cita mencampuri nash-nash wahyu yang tidak berubah melalui pengubahan baik penambahan atau pengurangan maupun penghapusan.

  1. Sumber pemikiran islam.

Islam sebagai addin memiliki dua sumber yang tak tergugat yaitu alquran dan assunnah. Sementara itu pemikiran islam memiliki tiga sumber pngetahuan, teks, ilham atau intuisi dan realitas. Yang dimaksudkan dengan teks adalah meliputi teks-teks keagamaan baik alquran dan assunnah maupun teks-teks hasil interpretasi dalam hal pemikiran islam. Yang kedua intuisi, adalah penemuan rahasia-rahasia keislaman melalui iktisyaf. Dan yang terakhir, realitas, merupakan penemuan realitas kealaman dan realitas kemanusiaan.

  1. Fungsi pemikiran islam

Pemikiran islam dibangun dan dibentuk  untuk mendukung universalitas islam sebagai petunjuk bagi penganut islam menuju kesalihan individu dan kesalihan sosial yang berhubungan erat dengan moralitas publik.

Lingkup kesalihan individu berhubungan dengan prektek-prektek keagamaan sehari-hari yang menyangkut moralitas pribadi. Sedangkan kesalihan publik berkenaan dengan respon terhadap wacana kotemporer, seperti masalah keagamaan, sosial, budaya, keberagaman agama, HAM, gender, dll, sehingga merumuskan dan melakukan dalam praktek sosial bernegara dan berbangsa.

  1. Metodologi pemikiran islam

Ada dua macam kebenaran yang dikenal dalam islam. Pertama ikhbari dan kedua nahari. Kebenaran ikhbari merupakan kebenaran wahyu yang datang langsung dari Allah. Dan yang kedua adalah kebenaran yang diperoleh dari proses ta’aqquli.

Mungkin kita sepakat, bahwa ada tiga tentang waktu; dulu-sekarang-akan datang. Ketiga rentang waktu ini sangat mempengaruhi tingkat pemahaman pemikiran baik oleh penulis, pembaca, maupun audiens. Oleh karena itu perlu adanya penyesuaian cara mentafsirkan dan penyajiannya terhadap perkembangan zaman. Inilah yang disebut dengan lingkaran hermeneutika. Dalam lingkaran hermeneutik (kritik konstuktif) maka seorang muslim tidak perlu lagi harus mengulang-ulang tradisi lama yang memang sudah usang untuk konteks kekinian dan kedisinian, meski bukan berarti menerima modernitas secara begitu saja. Jadi kewajiban seorang muslim tidak perlu lagi membaca teks-teks keagamaan baik wahyu maupun realitas secara monoton, tapi harus produktif (alqiraah almuntijah) atau bukan sekedar mengulang tradisi lama untuk memecahkan masalah baru, fleksibel (tidak kaku) dan terbuka atas kritik, imajinatif dalam arti kata membuka horizon pemahaman dan pendalaman baru melelaui iktisyaf, dan kreatif dalam memunculkan wilayah-wilayah baru pemikiran. Sebagai akibatnya, wacana keislaman kotemporer benar benar  mampu bersaing dengan perkembangan zaman.

  1. Prinsip Pengembanagan Pemikiran Islam

Prinsip-prinsip yang menjadi orientasi pemikiran islam antara lain:

  1. Prinsip konservasi, upaya pelestarian konsep-konsep dasar keagamaan yang terangkul dalam alquran dan assunnah, serta pemurnian ajaran islam dari kontaminasi budaya kuno leluhur dan budaya kekinian yang menyelimpang dari alquran dan assunnah.
  2. Prinsip inovasi, melakukan penyempurnaan ajaran islam untuk memenuhi tuntutan realitas kekinian kehidupan penganut islam.
  3. Prinsip kreasi, prinsip ini merupakan penciptaan pemikiran secara kreatif, konstruktif dalam menanggapi permasalahan aktual dengan cara penyesuaian nilai-nilai diluar islam secara selektif ke dalam tubuh islam.
  1. E.     KESIMPULAN

Dalam perkembangan zaman yang semakin lama semakin maju dan perkembangan pola pikir yang semakin lama semakin berkembang. Dirasa sangat perlu adanya sebuah perubahan di dalam pengembangan pola pikir masayarakat yang dewasa ini sudah mulai kembali jumud (membeku). Serta untuk menanggulangi penyakit masyarakat seperti tingkat kepercayaan kepada tahayyul, praktek ibadah bid’ah, dan kepercayaan khurafat masyarakat primitif model lama, maka diperlukan pemurnian akidah dan hukum-hukum agama dengan metode tajdid dan tarjih.

Pos ini dipublikasikan di fiqh, pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar atau Jempol Manisnya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s